Salah satu daerah di Indonesia yang masih menjunjung tinggi budaya adatnya adalah Bali. Pasti kamu tau dong jika Bali terkenal dengan aturan adat dan tradisi Budayanya yang sangat kaya dan menarik untuk dilihat.
Rangkaian Upacara Madengen–Dengen Dalam Prosesi Pernikahan Adat Bali
sumber: instagram/pixeliciousbali
Salah satu prosesi pernikahan adat Bali yang memiliki prosesi unik dalam tata cara melakukannya adalah Madengen-dengen atau biasa disebut juga dengan mekala-kala. Madengen-dengen merupakan salah satu prosesi adat pernikahan yang umumnya dijalani oleh pasangan asal Bali. Upacara madengen-dengen ini bertujuan untuk membersihkan diri atau menyucikan kedua pengantin dari energi negatif dalam diri kedua calon mempelai. Sehingga kedua mempelai memiliki aura dan juga sifat-sifat yang baik dan suci dalam menjalani pernikahan.
Prosesi pernikahan adat Bali ini dimulai dengan bunyi genta bergema menandakan ritual adat ini dimulai. Dipimpin oleh seorang pemangku adat atau biasa disebut Balian, prosesi ini dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut.
Menyentuhkan kaki pada kala sepetan
Upacara madengen–dengen atau mekala-kala ini bertujuan untuk menyucikan dan membersihkan diri kedua mempelai dari pengaruh jahat. Untuk tahapan ini sang mempelai pria memikul tegen-tegenan sambil membawa sapu lidi tiga biji. Maknanya adalah merupakan simbol Tri Kaya Parisudha.
Lihat juga: Lanjut Kuliah S2 Setelah Menikah? Tidak Mudah, Tetapi Bisa Dilakukan
Untuk sang mempelai wanita membawa bakul yang berisikan barang-barang dagangan, lalu keduanya berputar sebanyak tiga kali mengelilingi sanggar pesaksi, kemulan, dan penegteg. Yang mana keduanya diwajibkan menyentuhkan kaki pada serabut kelapa (kala sepetan) dan kemudian menendangnya.
sumber: instagram/pixeliciousbali
Madang-dagangan atau jual beli
Setelah melakukan tahapan diatas, maka sang mempelai wanita membawa bakul yang berisikan barang-barang dagangan yang kemudian dibeli oleh sang calon mempelai pria. Pada tahap ini kedua mempelai akan melakukan transaksi jual beli dan juga penawaran yang kemudian diakhiri dengan penyerahan barang dagangan serta pembayarannya.
Prosesi pernikahan adat Bali yang satu ini melambangkan sebuah rumah tangga yang memiliki kesepakatan berdua untuk membangun rumah tangga dan siap menanggung segala resiko yang ada. Selain itu, prosesi ini juga menjadi lambang sebuah rumah tangga yang harus saling membantu, mendukung, dan melengkapi satu sama lain dalam menjalaninya.
sumber: instagram/pixeliciousbali
Menusuk tikeh dadakan
Prosesi tikeh dadakan ini dilakukan oleh kedua pasangan. Yang mana sang mempelai wanita memegang tikeh dadakan. Tikeh dadakan adalah sebuah tikar anyaman yang terbuat dari daun pandan muda. Sedangkan sang calon pengantin pria memegang keris yang siap untuk menusukan kerisnya ke tikeh dadakan.
Tikeh dadakan yang digunakan oleh sang mempelai wanita dipercaya oleh umat Hindu adalah simbol kekuatan Sang Hyang Prakerti (kekuatan yoni), dan keris yang dimiliki calon mempelai pria perlambangan dari kekuatan Sang Hyang Purusa (kekuatan lingga).
Mapegat atau memutuskan Benang
Mapegat atau memutuskan benang bisa dibilang merupakan tahapan terakhir pada prosesi pernikahan adat Bali madengen-dengen. Dimana kedua mempelai akan memutuskan benang yang masing-masing ujungnya diikatkan pada dua cabang pohon dadap (papegatan). Pada saat memutuskan tali benang ini menyimbolkan akan masa remaja yang telah usai dan mulai untuk membangun kehidupan rumah tangga yang baru dengan hati yang bersih dan suci.
Setelah prosesi ini kedua calon mempelai akan dipersilahkan untuk mandi membersihkan diri. Setelah mandi, maka keduanya akan berganti pakaian dan berhias untuk melakukan upacara selanjutnya.




